Mahardika

Publisher : Yayasan Gema Mahardika Persada
Published Every month Advertising Hotline Ph. :62-22-2507708-
Notaris: Dr.Wiratni Ahmadi, SH 22 Juli 1998 No 43-Pengadilan Negeri Bandung (27 Juli 1998 No 151 SIUPP No.417/SK/MENPEN/1998
Published Every month Advertising Hotline Ph. :62-22-2507708-Worldwide Web : www.mahardika.com

Alamat Redaksi Pusat: Jl Haurmekar No A28 RT 01/01 Kel. Sadangserang Kec. Coblong Kota Bandung 40133.  email: gemamahardika@gmail.com

file:153a  
         
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kembali

Wisata di Cianjur Selatan

 Curug Citambur

 

Namanya juga curug citambur (air terjun genderang-red) itulah kira-kira kalau bahasa Indonesia karena nama curug citambur (dog dog) berasal dari daerah parahiangan, konon curug tersebut terdengar seperti genderang yang ditabuh. Lokasinya hampir perbatasan daerah Kab Bandung dengan Kab Cianjur. TeE\patnya di Desa Karang Jaya Kec. Pasirkuda. Kab. Cianjur. Lokasi Curug Citambur ini, memang lokasi parawisata walaupun masih sedikit yang tahu, selain lokasinya dikelilingi gunung ketinggian air terjun cukup tinggi juga tidak jauh dari tempat itu ada sebuah danau kecil yang disebut oleh warga setempat “Situ” namanya Situ Soro. Soro diambil dari jenis ikan yang konon menurut ceritera rakyat setempat ikan tersebut cukup besar dan jumlahnya tidak sedikit.

Suasana seputar curug citambur ini sangat indah, masih asli belum terkomtaminasi oleh kotoran dan limbah, airnya langsung dari gunung yang masih jernih. Suasana alam jauh dari deru mesin. Lokasi yang memang benar-benar alami ditambah dengan lingkungan masyarakat yang ramah.

Namun sayang, sarana tranportasi umum jarang ada bisa disebut tidak ada yang berani membuka trayek jurusan desa tersebut karena kondisi jalan cukup parah, kendaraan penduduk dan sesekali pedagang musiman yang lalu lalang. Padahal jarak antara jalan propinsi Sindangbarang Cianjur tidak begitu jauh, demikian juga jalan propinsi Ciwidey Situ Patenggang tidak jauh antara 30 Km.

Memang daerah ini kurang mendapat perhatian pemerintah, seperti pembangunan untuk kepentingan umum masih minim, listrik sering padam ditambah voltase tidak normal untuk menghidupkan teve saja hampir tidak bisa apalagi pada malam hari. Siaran teve hanya beberapa stasion itupun tidak jelas. Informasi yang seharusnya cepat sampai ke masyarakat, jarang pernah terjadi karena kendala beberapa factor.

Jalan yang dapat menghubungkan ke Desa Karang Jaya dari Situ Patenggang atau Rancabali, hanya sampai Desa Cipelah yang jalannya beraspal licin. Itupula karena sekelilingnya perkebungan teh Sinumbra.

Dari Cipelah ke Desa Karang Jaya cukup rusak berat, namun demikian roda empat jenis jeep masih bisa. Demikian juga dari Desa Sinagar jalan antara Sindangbarang Cianjur, untuk menuju Desa Karang Jaya cukup parah.

Sehingga lokasi wisata yang cukup diminati masyarakat itu, kini harus terhalang oleh sarana transportasi, padalah menurut  aparat desa setempat apabila jalan yang menghubungkan dari Cipelah dan Sinagar, kondisinya baik bisa diyakinkan lokasi wisata yang masih banyak belum tersentuk itu akan ramai dikunjungi dan dapat menghasilkan pendapatan daerah.

Karena keindahan lokasi wisata curug tambur dan rawa soro ini tidak kalah dengan tempat lokasi Situ Patenggang, Curug Citambur memiliki kelebihan curug (air tenjun) yang cukup tinggi, demikian juga di sekitar ini bias dijadikan tempat perkemahan.

Kalau ditempuh dari dua daerah masing-masing sebenarnya hanya satu jam, tapi sekarang bisa lebih. Kemungkinan enggannya turis local masuk tempat wisata ini, karena dua hal tadi. Namun demikian menurut masyarakat setempat sepanjang jalan yang menghubungkan lokasi wisata itu baik dari Sinagar maupun Desa Cipelah sudah di survey, konon jalan tersebut akan diperlebar dan menjadi jalan provinsi. Tapi sampai sekarang kondisinya masih tetap keadaan rusak, hanya disurrvey dan dilihat saja yang terjadi. Diharapkan Gubernur Jawa Barat yang baru, mampu melaksanakan pembangunan jalan yang tentunya bisa merubah perekonomian masyarakat Cianjur selatan antara Desa Cipelah-Kubang-Sinagar dan sekitarnya.

Dari beberapa pengunjung yang sempat dijumpai, ternyata mereka ada yang mengatakan bahwa wisata ke curug citambur ini lebih mengesankan. Karena selain jalannya cukup berkesan juga daerahnya bisa disebut masih “perawan”. Ya kalau mau wisata yang enak pakai mobil dan sampai ditujuan, sudah saja datang ke Ancol Jakarta. Ini kan wisata yang mengasyikan dan berkesan, Suherman dari Sukabumi memilih berkemah dengan teman-teman sekolah dalam rangka liburan panjang.

Menurut Kaur Umum Desa Karang Jaya Cucu yang sempat dijumpai di balai desa mengatakan, selama ini pengunjung yang masuk daerah wisata ini, hanya dipungut sebesar Rp 1.500/orang itupun kalau pada hari raya saja, kalau hari libur biasa karena pengunjung sedikit sekali terkadang ada yang dipungut ada yang tidak.

Yang memungut biasanya petugas dari desa dan perhutani, bagi hasil biasanya untuk desa 30% dan 70% untuk perhutani.

Sementara itu, pembangunan di desa Karang Jaya ini ternyata tidak tertinggal semakali, walaupun disebut sebagai daerah sedikit paling selatan terbukti Pemda Kab Cianjur memberikan bantuan untuk membangun Puskesmas Pembantu yang berhasil membangun 4 lokal dengan biaya yang diserahkan ke Desa sebesar Rp 60 juta ditambah swadaya masyarakat Rp 40 juta.

Dr pun sudah ada yang bersedia walaupun hanya 1 bulan sekali tetapi bagi mantri dan bidan setiap hari bertugas di Puskesmas ini, kata Kaur Umum  kepada majalah ini. Dinilai sudah cukup bagi pelayanan kepada masyarakat setempat.

Daerah dilingkungan Perhutani Hanyawar II Kab Cianjur ini, seyogyanya secepatnya mendapat perhatian dari pemerintah. Baik dari Kabupaten maupun Provinsi. Karena tidak sedikit aset yang tersimpan yang bisa menghasilkan devisa tidak sedikit jumlahnya, apalagi kawasan perhutani yang tidak menutup kemungkinan adanya penebangan liar. Karena dari suasana di dua jalur tersebut, sangat memungkinkan lolosnya para pengangkut kayu hasil tebangan liar. (Sonni Hadi-Bandung)