|
Wisata
di Cianjur Selatan
Curug
Citambur
Namanya juga curug citambur (air terjun
genderang-red) itulah kira-kira kalau bahasa Indonesia karena nama
curug citambur (dog dog) berasal dari daerah parahiangan, konon
curug tersebut terdengar seperti genderang yang ditabuh. Lokasinya
hampir perbatasan daerah Kab Bandung dengan Kab Cianjur. TeE\patnya
di Desa Karang Jaya Kec. Pasirkuda. Kab. Cianjur. Lokasi Curug
Citambur ini, memang lokasi parawisata walaupun masih sedikit yang
tahu, selain lokasinya dikelilingi gunung ketinggian air terjun
cukup tinggi juga tidak jauh dari tempat itu ada sebuah danau kecil
yang disebut oleh warga setempat “Situ” namanya Situ Soro. Soro
diambil dari jenis ikan yang konon menurut ceritera rakyat setempat
ikan tersebut cukup besar dan jumlahnya tidak sedikit.
Suasana seputar
curug citambur ini sangat indah, masih asli belum terkomtaminasi
oleh kotoran dan limbah, airnya langsung dari gunung yang masih
jernih. Suasana alam jauh dari deru mesin. Lokasi yang memang
benar-benar alami ditambah dengan lingkungan masyarakat yang ramah.
Namun
sayang, sarana tranportasi umum jarang ada bisa disebut tidak ada
yang berani membuka trayek jurusan desa tersebut karena kondisi
jalan cukup parah, kendaraan penduduk dan sesekali pedagang musiman
yang lalu lalang. Padahal jarak antara jalan propinsi Sindangbarang
Cianjur tidak begitu jauh, demikian juga jalan propinsi Ciwidey Situ
Patenggang tidak jauh antara 30 Km.
Memang
daerah ini kurang mendapat perhatian pemerintah, seperti pembangunan
untuk kepentingan umum masih minim, listrik sering padam ditambah
voltase tidak normal untuk menghidupkan teve saja hampir tidak bisa
apalagi pada malam hari. Siaran teve hanya beberapa stasion itupun
tidak jelas. Informasi yang seharusnya cepat sampai ke masyarakat,
jarang pernah terjadi karena kendala beberapa factor.
Jalan yang dapat
menghubungkan ke Desa Karang Jaya dari Situ Patenggang atau
Rancabali, hanya sampai Desa Cipelah yang jalannya beraspal licin.
Itupula karena sekelilingnya perkebungan teh Sinumbra.
Dari
Cipelah ke Desa Karang Jaya cukup rusak berat, namun demikian roda
empat jenis jeep masih bisa. Demikian juga dari Desa Sinagar jalan
antara Sindangbarang Cianjur, untuk menuju Desa Karang Jaya cukup
parah.
Sehingga
lokasi wisata yang cukup diminati masyarakat itu, kini harus
terhalang oleh sarana transportasi, padalah menurut
aparat desa setempat apabila jalan yang menghubungkan dari
Cipelah dan Sinagar, kondisinya baik bisa diyakinkan lokasi wisata
yang masih banyak belum tersentuk itu akan ramai dikunjungi dan
dapat menghasilkan pendapatan daerah.
Karena
keindahan lokasi wisata curug tambur dan rawa soro ini tidak kalah
dengan tempat lokasi Situ Patenggang, Curug Citambur memiliki
kelebihan curug (air tenjun) yang cukup tinggi, demikian juga di
sekitar ini bias dijadikan tempat perkemahan.
Kalau ditempuh dari
dua daerah masing-masing sebenarnya hanya satu jam, tapi sekarang
bisa lebih. Kemungkinan enggannya turis local masuk tempat wisata
ini, karena dua hal tadi. Namun demikian menurut masyarakat setempat
sepanjang jalan yang menghubungkan lokasi wisata itu baik dari
Sinagar maupun Desa Cipelah sudah di survey, konon jalan tersebut
akan diperlebar dan menjadi jalan provinsi. Tapi sampai sekarang
kondisinya masih tetap keadaan rusak, hanya disurrvey dan dilihat
saja yang terjadi. Diharapkan Gubernur Jawa Barat yang baru, mampu
melaksanakan pembangunan jalan yang tentunya bisa merubah
perekonomian masyarakat Cianjur selatan antara Desa
Cipelah-Kubang-Sinagar dan sekitarnya.
Dari
beberapa pengunjung yang sempat dijumpai, ternyata mereka ada yang
mengatakan bahwa wisata ke curug citambur ini lebih mengesankan.
Karena selain jalannya cukup berkesan juga daerahnya bisa disebut
masih “perawan”. Ya kalau mau wisata yang enak pakai mobil dan
sampai ditujuan, sudah saja datang ke Ancol Jakarta. Ini kan wisata
yang mengasyikan dan berkesan, Suherman dari Sukabumi memilih
berkemah dengan teman-teman sekolah dalam rangka liburan panjang.
Menurut
Kaur Umum Desa Karang Jaya Cucu yang sempat dijumpai di balai desa
mengatakan, selama ini pengunjung yang masuk daerah wisata ini,
hanya dipungut sebesar Rp 1.500/orang itupun kalau pada hari raya
saja, kalau hari libur biasa karena pengunjung sedikit sekali
terkadang ada yang dipungut ada yang tidak.
Yang memungut
biasanya petugas dari desa dan perhutani, bagi hasil biasanya untuk
desa 30% dan 70% untuk perhutani.
Sementara
itu, pembangunan di desa Karang Jaya ini ternyata tidak tertinggal
semakali, walaupun disebut sebagai daerah sedikit paling selatan
terbukti Pemda Kab Cianjur memberikan bantuan untuk membangun
Puskesmas Pembantu yang berhasil membangun 4 lokal dengan biaya yang
diserahkan ke Desa sebesar Rp 60 juta ditambah swadaya masyarakat Rp
40 juta.
Dr
pun sudah ada yang bersedia walaupun hanya 1 bulan sekali tetapi
bagi mantri dan bidan setiap hari bertugas di Puskesmas ini, kata
Kaur Umum kepada majalah ini. Dinilai sudah cukup bagi pelayanan kepada
masyarakat setempat.
Daerah dilingkungan
Perhutani Hanyawar II Kab Cianjur ini, seyogyanya secepatnya
mendapat perhatian dari pemerintah. Baik dari Kabupaten maupun
Provinsi. Karena tidak sedikit aset yang tersimpan yang bisa
menghasilkan devisa tidak sedikit jumlahnya, apalagi kawasan
perhutani yang tidak menutup kemungkinan adanya penebangan liar.
Karena dari suasana di dua jalur tersebut, sangat memungkinkan
lolosnya para pengangkut kayu hasil tebangan liar. (Sonni
Hadi-Bandung)
|