Publisher : Yayasan gema Mahardika Persada

Published Every month Advertising Hotline Ph. :62-22-2507708- Fax : 2507708-PO Box 1526 BDG
Notaris: Dr.Wiratni Ahmadi, SH 22 Juli 1998 No 43-Pengadilan Negeri Bandung -27 Juli 1998 No 151- SIUPP No.417/SK/MENPEN/1998
 NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) : 09.352.274.6-423.000 email: gemamahardika@gmail.com

 

MANTAN KAPOLSEK

JADI BUPATI MERANGIN

 

Drs. H. Nalim SH,MM merupakan figure yang suda dikenal di 211 Desa di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi, dan memang tidak asing lagi sejak dirinya dipinta oleh beberapa elemen serta tokoh masyarakat Merangin untuk pulang kampung guna mencalonkan diri menjadi Bupati Merangin untuk periode 2008-2013.

Dengan panggilan dan terdorong oleh hati nurani yang dalam serta merasa ingin memajukan daerah, maka H Nalim didampingi itri Hj.Sukmajaya serta keluarga lainnya

Berkumpul dengan masyarakat di Kabupaten Merangin yang tentunya disambut baik mulai dari ulama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya.

Saat itulah ketika H Nalim berada di tengah-tengah masyarakat mendengarkan langsung aspirasi seluruh masyarakat yang berkehendak bahwa H Nalim untuk memimpin. Pada saat silaturahmi itulah pria kelahiran 1 Juni 1960 di Desa Ngaol Kecamatan Tabir Ulu Kabupaten Merangin, merasa tersanjung walaupun dirinya dibesarkan di desa yang selalu berhadapan dengan warga masyarakat dari berbagai golongan dan dirinya berbesar hati dan tak canggung-canggung lagi untuk menuruti kehendak masyarakat.

Dengan dukungan begitu besar, maka H. Nalim dengan mudah namanya “meroket” di seantero Bumi Tali Undang Tambang Teliti Kab Merangin Provinsi Jambi, bahkan ia berhasil menyisihkan spering patnernya dalam merebut hati masyarakat Kab Merangin untuk dapat dipercaya menjadi Bupati untuk masa bhakti 2008-2013 yang digelar 22 Juni 2008 lalu.

H Nalim yang berpasangan dengan mantan Sekda Kabupaten Sarolangun H . Hasan Basri Harun, mampu meraup 45% suara yang diperoleh dari berbagai golongan masyarakat serta diusung oleh lima partai politik diantaranya PAN,PKS,PKPB,Pmdan PNIM akhirnya dilantik pada hari Rabu yang cerah langit membiru di tas Merangin olehGubernur Jambi H Zulkifli Nurdin atas nama Mendagri di Gedung DPRD Merangin.

Di kediamannya seusai dilantik gubernur, sempat juga  H Nalim sebagai Bupati Kab Merangin menceriterakan kilas balik perjalanan hidupnya sejak kecil hingga mencalonkan dirinya sebagai bupati dan menjadi bupati yang masa baktinya lima tahun.

Keinginan untuk maju Nalim kecil sudah dirasakan ketika tahun 1972, kala itu sudah terbetik untuk menuntut ilmu baik sekolah keagamaan maupun umum, dengan tekad kuat akhirnya tahun 1972 itulah mulai melangkahkan kakinya untuk merantau ke Desa Seling Kecamatan Tabir, merasa tidak cukup menimba ilmu ia pindah ke SD Negeri 3 Rantau Panjang. Namun karena keinginannya untuk terus belajar, ia gunakan setelah sekolah pada pagi hari untuk belajar siang harinya untuk belajar di Madrasah atau pesantren pada sore harinya. Sehingga tidak ada waktu terbuang dengan begitu saja setiap harinya, jam demi jam terus belajar dan belajar hingga tahu 1974.

Dengan menyelesaikan sekolah tahun itu juga Nalim remaja langsung pulang kampung di Desa Ngael, caranyapun tidak mempergunakan kendaraan namun dengan jalan kaki menempuh kampung halam selama dua hari. Rasa bahagia telah menyelesaikan pendidikan dasar itulah, Nalim terus berusaha untuk meraih cita-citanya melanjutkan pendidikan, setelah mendapat restu dari kedua orangtuanya bertekad dengan hati yang kuat berangkat ke Kerinci melalui Desa Airliki terus ke Tarutung.

Keberangkatan Nalim bukan mempergunakan kendaraan, namun mengulang ketika pulang kampung dengan jalan kaki. Kali ini jalan kaki ditempuh dengan enam hari, benar-benar tekad yang kuat, walaupun keberangkatannya hanya dibekali nasi bungkus dan hati baja untuk mengejar karier menimba ilmu.

Setelah sampai di Kabupaten Kerinci, tepatnya di Desa Hiang ia langsung mendaftarkan dirinya untuk masuk SMP Hiang. Bahkan tidak itu saja, karena waktu petang harinya dipergunakan untuk belajar di Pondok Pesantren. Memang Nalim yang haus ilmu itu berhasil menimba ilmu bahkan tahun 1980 melanjutkan penidikannya di Kota Padang Sumatera Barat.

Karena terdorong dengan kejiwaanya ingin menyumbangkan tenaga dan fikiran menjadi abdi negara, Nalim saat itu bertekad dan langsung menclonkan diri menjadi aparatur negara, sebagai pengayom masyarakat. Nasibnya memang baik, dengan kebulatan tekad yang kuat Nalim remaja itu berhasil pula diterima menjadi siswa calon tamtama bahkan berhasil juga menggeluti pendidikan dasar kepolisian.

Rupanya negara berpihak kepada nasib Nalim remaja, ditandai dengan kelulusan sebagai anggota polisi, walaupun saat itu berpangkat Bhayangkara Dua (Bharada) sama dengan prajurit dua. Begitu girang dan bersyukur Nalim yang tak pernah meninggalkan kwajibannya lima waktu. Dengan mengawali tugas yang dipercayakan negara, Nalim menjadi anggota Polres Solok.

Walaupun sudah menyandang pangkat di pundaknya, Nalim terus berkiprah melanjutkan pendidikan ke tingkat Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Solok hingga menamatkan sekolahnya pada tahu 1983. Ternyata juga perjalanan hidupnya cukup panjang, Nalim terus bergelut dengan tugas sebagai anggota polisi dan mendalami berbagai ilmu, karena menganggap ilmu merupakan jembatan menuju kesuksesan berkarier.

Selama bertahun-tahun Nalim belajar dan terus belajar mempersiapkan keinginnannya, tak lain mengikuti Sekolah Calon Bintara, dan keinginannya itu ternyata berhasil dan dipercaya Kapolda Sumatera Barat saat itu untuk melanjutkan pendidikan dan berhasil juga hingga pangkatnya berubah menjadi sersan dua (Serda) dengan masuk golongan Bintara.

Karena merasa masih kurang, dan ada waktu luang selama bertugas, Nalim tidak mau menjadi seorang yang cukup puas dengan keadaan, ia berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan Tinggi, memang Nalim yang senang mencari ilmu, tidak sulit baginya menghadapi berbagai test atau ujian. Dengan kemampuannya itu Nalim diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang dan setelah menyelesaikan kuliah ia kembali dipercaya oleh Kapolda untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Sukabumi Jawa Barat dan mampu melalui pendidikan itu dengan keluar dan menyandang pangkat Letnan Dua (Letda)

Setelah kembali ke kesatuannya, ia mendapat kedudukan sebagai Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Bayangkan dengan hanya satu tahun kariernya terus menanjak dan dialihkan menjadi Kapolsek Pancung Soal di Kecamatan Indropuro Kabupaten Pesisir Selatan. Lagi-lagi Nalim yang baru bertugas enam bulan berhasil meraih sebagai Kapolsek Teladan tingkat Polda Sumbar, Nama Nalim semakin mencuat dan menjadi sorotan para pejabat karena keberhasilannya dan tidak lama dari meraih keteladanan ia dipromosikan menjabat Kasubag Dalper Polda Sumbar, di tempat inilah Nalim cukup lama bertugas yaitu tiga tahun.

Nasib selalu menyertainya, pada tahun 2004 Nalim dipercaya juga oleh Kapolda Sumbar untuk mengikuti Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa) di Jakarta dan mampu menyelesaikan dengan ditandai kenaikan pangkat menjadi Mayor Polisi (Kompol) kemudian langsung menjabat jabatan Kasubag Dalpers Biro Personil Polda Sumbar.

Selama menjadi anggota polisi,Nalim tiga kali menerima tanda jasa yakni Kepolsek teladan sebagai perwira terbaik GDN 1995 dari Kapolda Sumbar, Satyalencana Kesetiaan 24 Tahun dari Kapolri dan Satya Lencana Bintang Bhayangkara Naraya 2005 dari Presiden RI.

Dari kemampuan dan keinginan yang kuat mengabdikan dirinya kepada negara, Nalim beranjak yang tadinya khusus sebagai aparat pengayom masyarakat, dirinya bertekad juga ingin menjadi orang nomor satu di Merangin. Melalui berbagai saran dari banyak pihak, Nalim akhirnya memasuki proses pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Merangin Provinsi Jambi pada tahun 2008, konsekkuensinya apabila ia terpilih dan dipercaya masyarakat maka atribut kepolisiannya yang selama ini dipundak harus dibebaskan. Karena percaya diri dan banyak pihak yang mendukung, akhirnya proses Pilkada berlanjut dan ia salah seorang yang menjadi calon, memang nasib selalu menyertainya. Nalim berhasil pula memenangkan pemilihan karena dicintai masyarakat, maka sejak tanggal 11 Maret sebelum Pilkada Nalin sudah menyatakan bebas tugas sebagai perwira menengah di Polda Sumbar.

Ketika ditanya bagaimana pengalaman 10 tahun kebelakang apa yang telah dilakukan oleh bupati terdahulunya, ia menjawab dengan tenang “ kita semua ambil hikmahnya, manusia ada yang lebih dan ada yang kurang. Kita berupaya untuk meningkatkan disiplin pegawai, jika ada yang menyerempet pidana itu urusannya pihak kepolisian kita harus menatap masa depan yang lebih baik” Ujarnya.

Setelah dilantik sebagai Bupati Merangin H Nalim beserta wakilnya H Hasan Basri Harun, hari-hari berikutnya langsung melakukan inspeksi mendaadak (Sidak) ke bebrapa bagian di seputar Sekretariat Daerah Pemkab  Merangin didampingi pelaksana tugas Sekda Merangin Marzuki Yahya dan Kabag Umum Hamdan.

Inspeksi mendadak itu biasanya dilakukan Bupati setiap pukul 12.00 hingga pukul 14.00, pertama yang mendapat kunjungan bagian Humas, dan kedapatan di bagian tersebut hanya sebagian kecil saja pegawai yang terlihat begitu juga di tempat lainnya, rupanya kedatangan bupati tidak diketahui sebelumnya, maklum namanya juga Sidak.

H Nalim biasanya kalau saat dzuhur selalu menuju mushola yang terletak masih di kawasan perkantoran, selesai sembayang biasanya juga terus berkeliling ke ruangan ruangan lainnya. Hal ini dilakukannya selain untuk mendisiplinkan para pegawai juga untuk mengenal lebih dekat dengan para karyawan dan untuk memudahkan dalam mengambil kebijakan selama lima tahun kedepan.

Penulis wartawan Jambi Alwi BBA