|
MANTAN KAPOLSEK
JADI
BUPATI MERANGIN
Drs. H. Nalim SH,MM merupakan figure yang suda dikenal di
211 Desa di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi, dan memang tidak asing lagi
sejak dirinya dipinta oleh beberapa elemen serta tokoh masyarakat Merangin
untuk pulang kampung guna mencalonkan diri menjadi Bupati Merangin untuk
periode 2008-2013.
Dengan panggilan dan terdorong oleh hati nurani yang
dalam serta merasa ingin memajukan daerah, maka H Nalim didampingi itri
Hj.Sukmajaya serta keluarga lainnya
Berkumpul dengan masyarakat di Kabupaten Merangin yang
tentunya disambut baik mulai dari ulama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen
lainnya.
Saat itulah ketika H Nalim berada di tengah-tengah
masyarakat mendengarkan langsung aspirasi seluruh masyarakat yang berkehendak
bahwa H Nalim untuk memimpin. Pada saat silaturahmi itulah pria kelahiran 1
Juni 1960 di Desa Ngaol Kecamatan Tabir Ulu Kabupaten Merangin, merasa
tersanjung walaupun dirinya dibesarkan di desa yang selalu berhadapan dengan
warga masyarakat dari berbagai golongan dan dirinya berbesar hati dan tak
canggung-canggung lagi untuk menuruti kehendak masyarakat.
Dengan dukungan begitu besar, maka H. Nalim dengan mudah
namanya “meroket” di seantero Bumi Tali Undang Tambang Teliti Kab Merangin
Provinsi Jambi, bahkan ia berhasil menyisihkan spering patnernya dalam merebut
hati masyarakat Kab Merangin untuk dapat dipercaya menjadi Bupati untuk masa
bhakti 2008-2013 yang digelar 22 Juni 2008 lalu.
H Nalim yang berpasangan dengan mantan Sekda Kabupaten
Sarolangun H . Hasan Basri Harun, mampu meraup 45% suara yang diperoleh dari
berbagai golongan masyarakat serta diusung oleh lima partai politik
diantaranya PAN,PKS,PKPB,Pmdan PNIM akhirnya dilantik pada hari Rabu yang
cerah langit membiru di tas Merangin olehGubernur Jambi H Zulkifli Nurdin atas
nama Mendagri di Gedung DPRD Merangin.
Di kediamannya seusai dilantik gubernur, sempat juga
H Nalim sebagai Bupati Kab Merangin menceriterakan kilas balik
perjalanan hidupnya sejak kecil hingga mencalonkan dirinya sebagai bupati dan
menjadi bupati yang masa baktinya lima tahun.
Keinginan untuk maju Nalim kecil sudah dirasakan ketika
tahun 1972, kala itu sudah terbetik untuk menuntut ilmu baik sekolah keagamaan
maupun umum, dengan tekad kuat akhirnya tahun 1972 itulah mulai melangkahkan
kakinya untuk merantau ke Desa Seling Kecamatan Tabir, merasa tidak cukup
menimba ilmu ia pindah ke SD Negeri 3 Rantau Panjang. Namun karena
keinginannya untuk terus belajar, ia gunakan setelah sekolah pada pagi hari
untuk belajar siang harinya untuk belajar di Madrasah atau pesantren pada sore
harinya. Sehingga tidak ada waktu terbuang dengan begitu saja setiap harinya,
jam demi jam terus belajar dan belajar hingga tahu 1974.
Dengan menyelesaikan sekolah tahun itu juga Nalim remaja
langsung pulang kampung di Desa Ngael, caranyapun tidak mempergunakan
kendaraan namun dengan jalan kaki menempuh kampung halam selama dua hari. Rasa
bahagia telah menyelesaikan pendidikan dasar itulah, Nalim terus berusaha
untuk meraih cita-citanya melanjutkan pendidikan, setelah mendapat restu dari
kedua orangtuanya bertekad dengan hati yang kuat berangkat ke Kerinci melalui
Desa Airliki terus ke Tarutung.
Keberangkatan Nalim bukan mempergunakan kendaraan, namun
mengulang ketika pulang kampung dengan jalan kaki. Kali ini jalan kaki
ditempuh dengan enam hari, benar-benar tekad yang kuat, walaupun
keberangkatannya hanya dibekali nasi bungkus dan hati baja untuk mengejar
karier menimba ilmu.
Setelah sampai di Kabupaten Kerinci, tepatnya di Desa
Hiang ia langsung mendaftarkan dirinya untuk masuk SMP Hiang. Bahkan tidak itu
saja, karena waktu petang harinya dipergunakan untuk belajar di Pondok
Pesantren. Memang Nalim yang haus ilmu itu berhasil menimba ilmu bahkan tahun
1980 melanjutkan penidikannya di Kota Padang Sumatera Barat.
Karena terdorong dengan kejiwaanya ingin menyumbangkan
tenaga dan fikiran menjadi abdi negara, Nalim saat itu bertekad dan langsung
menclonkan diri menjadi aparatur negara, sebagai pengayom masyarakat. Nasibnya
memang baik, dengan kebulatan tekad yang kuat Nalim remaja itu berhasil pula
diterima menjadi siswa calon tamtama bahkan berhasil juga menggeluti
pendidikan dasar kepolisian.
Rupanya negara berpihak kepada nasib Nalim remaja,
ditandai dengan kelulusan sebagai anggota polisi, walaupun saat itu berpangkat
Bhayangkara Dua (Bharada) sama dengan prajurit dua. Begitu girang dan
bersyukur Nalim yang tak pernah meninggalkan kwajibannya lima waktu. Dengan
mengawali tugas yang dipercayakan negara, Nalim menjadi anggota Polres Solok.
Walaupun sudah menyandang pangkat di pundaknya, Nalim
terus berkiprah melanjutkan pendidikan ke tingkat Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
Solok hingga menamatkan sekolahnya pada tahu 1983. Ternyata juga perjalanan
hidupnya cukup panjang, Nalim terus bergelut dengan tugas sebagai anggota
polisi dan mendalami berbagai ilmu, karena menganggap ilmu merupakan jembatan
menuju kesuksesan berkarier.
Selama bertahun-tahun Nalim belajar dan terus belajar
mempersiapkan keinginnannya, tak lain mengikuti Sekolah Calon Bintara, dan
keinginannya itu ternyata berhasil dan dipercaya Kapolda Sumatera Barat saat
itu untuk melanjutkan pendidikan dan berhasil juga hingga pangkatnya berubah
menjadi sersan dua (Serda) dengan masuk golongan Bintara.
Karena merasa masih kurang, dan ada waktu luang selama
bertugas, Nalim tidak mau menjadi seorang yang cukup puas dengan keadaan, ia
berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan Tinggi, memang
Nalim yang senang mencari ilmu, tidak sulit baginya menghadapi berbagai test
atau ujian. Dengan kemampuannya itu Nalim diterima sebagai mahasiswa di
Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang dan setelah menyelesaikan kuliah ia
kembali dipercaya oleh Kapolda untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Calon
Perwira (Secapa) di Sukabumi Jawa Barat dan mampu melalui pendidikan itu
dengan keluar dan menyandang pangkat Letnan Dua (Letda)
Setelah kembali ke kesatuannya, ia mendapat kedudukan
sebagai Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Bayangkan dengan hanya satu tahun
kariernya terus menanjak dan dialihkan menjadi Kapolsek Pancung Soal di
Kecamatan Indropuro Kabupaten Pesisir Selatan. Lagi-lagi Nalim yang baru
bertugas enam bulan berhasil meraih sebagai Kapolsek Teladan tingkat Polda
Sumbar, Nama Nalim semakin mencuat dan menjadi sorotan para pejabat karena
keberhasilannya dan tidak lama dari meraih keteladanan ia dipromosikan
menjabat Kasubag Dalper Polda Sumbar, di tempat inilah Nalim cukup lama
bertugas yaitu tiga tahun.
Nasib selalu menyertainya, pada tahun 2004 Nalim
dipercaya juga oleh Kapolda Sumbar untuk mengikuti Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa)
di Jakarta dan mampu menyelesaikan dengan ditandai kenaikan pangkat menjadi
Mayor Polisi (Kompol) kemudian langsung menjabat jabatan Kasubag Dalpers Biro
Personil Polda Sumbar.
Selama menjadi anggota polisi,Nalim tiga kali menerima
tanda jasa yakni Kepolsek teladan sebagai perwira terbaik GDN 1995 dari
Kapolda Sumbar, Satyalencana Kesetiaan 24 Tahun dari Kapolri dan Satya Lencana
Bintang Bhayangkara Naraya 2005 dari Presiden RI.
Dari kemampuan dan keinginan yang kuat mengabdikan
dirinya kepada negara, Nalim beranjak yang tadinya khusus sebagai aparat
pengayom masyarakat, dirinya bertekad juga ingin menjadi orang nomor satu di
Merangin. Melalui berbagai saran dari banyak pihak, Nalim akhirnya memasuki
proses pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Merangin Provinsi Jambi pada tahun
2008, konsekkuensinya apabila ia terpilih dan dipercaya masyarakat maka
atribut kepolisiannya yang selama ini dipundak harus dibebaskan. Karena
percaya diri dan banyak pihak yang mendukung, akhirnya proses Pilkada
berlanjut dan ia salah seorang yang menjadi calon, memang nasib selalu
menyertainya. Nalim berhasil pula memenangkan pemilihan karena dicintai
masyarakat, maka sejak tanggal 11 Maret sebelum Pilkada Nalin sudah menyatakan
bebas tugas sebagai perwira menengah di Polda Sumbar.
Ketika ditanya bagaimana pengalaman 10 tahun kebelakang
apa yang telah dilakukan oleh bupati terdahulunya, ia menjawab dengan tenang
“ kita semua ambil hikmahnya, manusia ada yang lebih dan ada yang kurang.
Kita berupaya untuk meningkatkan disiplin pegawai, jika ada yang menyerempet
pidana itu urusannya pihak kepolisian kita harus menatap masa depan yang lebih
baik” Ujarnya.
Setelah dilantik sebagai Bupati Merangin H Nalim beserta
wakilnya H Hasan Basri Harun, hari-hari berikutnya langsung melakukan inspeksi
mendaadak (Sidak) ke bebrapa bagian di seputar Sekretariat Daerah Pemkab
Merangin didampingi pelaksana tugas Sekda Merangin Marzuki Yahya dan
Kabag Umum Hamdan.
Inspeksi mendadak itu biasanya dilakukan Bupati setiap
pukul 12.00 hingga pukul 14.00, pertama yang mendapat kunjungan bagian Humas,
dan kedapatan di bagian tersebut hanya sebagian kecil saja pegawai yang
terlihat begitu juga di tempat lainnya, rupanya kedatangan bupati tidak
diketahui sebelumnya, maklum namanya juga Sidak.
H Nalim biasanya kalau saat dzuhur selalu menuju mushola
yang terletak masih di kawasan perkantoran, selesai sembayang biasanya juga
terus berkeliling ke ruangan ruangan lainnya. Hal ini dilakukannya selain
untuk mendisiplinkan para pegawai juga untuk mengenal lebih dekat dengan para
karyawan dan untuk memudahkan dalam mengambil kebijakan selama lima tahun
kedepan.
Penulis
wartawan Jambi Alwi BBA
|